Video : Wonder Nusantara I Boyolali I Jawa Tengah
Di lereng sejuk Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Desa Baros tumbuh sebagai salah satu sentra penghasil susu sapi perah yang menguatkan reputasi Boyolali sebagai “Kota Susu”. Berada di kawasan pegunungan antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, Baros memiliki iklim sejuk dan ketersediaan hijauan melimpah—dua faktor penting bagi produktivitas sapi perah.
Di desa ini, beternak bukan sekadar usaha, melainkan tradisi keluarga yang diwariskan turun-temurun. Setiap tetes susu adalah hasil disiplin, ketelatenan, dan pengetahuan lokal yang terjaga.
Kandang dibersihkan minimal dua kali sehari (pagi & sore).
Lantai kandang dijaga tetap kering untuk mencegah penyakit kuku dan mastitis.
Ventilasi diatur agar sirkulasi udara lancar, menjaga suhu tetap nyaman.
Peternak memantau nafsu makan, suhu tubuh, dan kondisi ambing.
Vaksinasi dan pemeriksaan rutin dilakukan bekerja sama dengan petugas peternakan setempat.
Sapi bunting mendapat perhatian khusus, termasuk pengaturan pakan dan jadwal istirahat.
Produktivitas susu sangat bergantung pada kualitas pakan. Di Baros, pakan diberikan secara terjadwal:
Hijauan segar (rumput gajah, rumput lapang, atau daun jagung).
Air minum bersih tersedia sepanjang hari.
Konsentrat (campuran dedak, bungkil kedelai, mineral).
Tambahan silase atau fermentasi pakan saat musim kemarau.
Komposisi pakan disesuaikan dengan fase laktasi sapi. Semakin baik kualitas pakan, semakin optimal produksi susu yang dihasilkan.
Pemerahan dilakukan dua kali sehari, umumnya pukul 05.00 pagi dan 16.00 sore.
Ambing dibersihkan dengan air hangat dan dikeringkan.
Dilakukan pengecekan awal kualitas susu.
Pemerahan dilakukan secara manual atau menggunakan mesin perah sederhana.
Susu disaring untuk memastikan kebersihan.
Setiap sapi rata-rata menghasilkan 10–20 liter susu per hari, tergantung kondisi dan kualitas pakan.
Setelah diperah:
Susu segera dimasukkan ke dalam wadah stainless steel.
Disimpan dalam kondisi dingin untuk menjaga kualitas.
Disetorkan ke koperasi susu atau pengepul maksimal beberapa jam setelah pemerahan.
Di koperasi, susu diuji kualitasnya (kadar lemak, kebersihan, dan kandungan air) sebelum didistribusikan ke industri pengolahan susu.
Desa Baros bukan hanya penghasil susu, tetapi juga simbol ketahanan ekonomi desa. Dari kandang-kandang sederhana di lereng pegunungan, susu segar mengalir setiap hari, menjadi bagian dari rantai pangan nasional.
Jika dikembangkan lebih lanjut, Baros berpotensi menjadi:
Desa Wisata Edukasi Sapi Perah
Sentra olahan susu (yoghurt, keju lokal, susu pasteurisasi)
Model integrasi peternakan dan pariwisata berbasis desa
Sebuah kisah tentang ketekunan warga desa—dan tentang bagaimana pegunungan Boyolali menjaga kualitas setiap tetes susu yang sampai ke meja masyarakat.