Refleksi Hari Pers Nasional
Setiap 9 Februari, bangsa Indonesia memperingati Hari Pers Nasional. Momentum ini bukan sekadar perayaan profesi, tetapi ruang refleksi: sejauh mana pers ikut membangun arah bangsa. Dalam sejarah Indonesia, pers tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga hadir di jantung pembentukan negara. Salah satu tokoh yang merepresentasikan peran itu adalah Soemanang Soerjowinoto.
Dari Pers ke Panggung Negara
Soemanang Soerjowinoto lahir di Yogyakarta, 1 Mei 1908. Ia tumbuh sebagai intelektual yang menguasai jurnalistik, hukum, dan ekonomi politik. Pada masa awal kemerdekaan, ketika media menjadi alat perjuangan dan konsolidasi bangsa, Soemanang tampil sebagai salah satu penggerak utama.
Ia tercatat sebagai Ketua Umum pertama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) hasil Kongres Solo 1946. Bagi Soemanang, pers bukan sekadar corong informasi, tetapi bagian dari proses membangun kesadaran nasional dan arah republik.
Pers, bagi Soemanang, adalah ruang berpikir—bukan hanya ruang menulis.
Terlibat dalam Arah Kebijakan Ekonomi Awal Republik
Peran Soemanang tidak berhenti di dunia pers. Pada fase krusial pascakemerdekaan, Indonesia menghadapi tantangan besar: menata sistem politik dan ekonomi negara yang baru lahir dari warisan kolonial.
Soemanang kemudian hadir sebagai negarawan. Ia menjadi Senator Republik Indonesia Serikat (1950), anggota DPR (1950–1954), serta Menteri Perdagangan dalam Kabinet Wilopo (1952–1953).

Foto : Ilustrasi
Dalam posisi inilah Soemanang berada di lingkar kebijakan ekonomi negara: perdagangan luar negeri, orientasi ekonomi nasional, serta hubungan keuangan internasional. Ia bukan teknokrat bank sentral, tetapi intelektual kebijakan yang ikut membentuk diskursus ekonomi Republik.
Soemanang juga berada di sekitar fase penting lahirnya sistem perbankan nasional—ketika BNI dan kemudian Bank Indonesia menjadi pilar moneter negara. Dari ruang kebijakan itulah ia terlibat dalam perumusan arah ekonomi awal Republik: bagaimana negara berdagang, membangun kepercayaan keuangan, dan menata hubungan ekonomi dengan dunia.
Dengan kata lain, Soemanang ikut membangun arsitektur gagasan ekonomi, bukan sekadar menjalankan mesin keuangan.
Dari Nasional ke Global
Jejak Soemanang kemudian melampaui batas nasional. Ia dipercaya menjadi Executive Director International Monetary Fund (IMF) mewakili Indonesia.
Posisi ini menempatkannya di panggung ekonomi global sekaligus membawa perspektif Indonesia ke dalam percaturan keuangan internasional. Dari pers, ke parlemen, ke kabinet, lalu ke forum dunia—jalur yang jarang dimiliki seorang wartawan.
Ia menjadi contoh bahwa insan pers dapat tumbuh menjadi aktor kebijakan tanpa kehilangan kepekaan sosialnya.
Pelajaran untuk Pers di Era Artificial Intelligence
Soemanang memberi pesan penting bagi pers hari ini.
Ia menunjukkan bahwa insan pers dapat terlibat dalam perumusan arah kebijakan negara tanpa kehilangan independensi. Di era kecerdasan buatan dan banjir informasi, pers tidak cukup hanya melaporkan peristiwa. Pers juga tidak boleh berhenti pada teks, tetapi harus membaca konteks.
Pers perlu melihat:
apa dampak kebijakan bagi rakyat,
ke mana arah ekonomi bergerak,
siapa yang diuntungkan dan siapa yang tertinggal.
Wartawan bukan sekadar penyampai kabar, tetapi navigator informasi—yang membantu publik memahami risiko, peluang, dan konsekuensi multidimensi dari setiap keputusan negara.
Ketika arus informasi semakin cepat dan sering kali dangkal, pers justru dituntut semakin dalam: bukan hanya siapa melakukan apa, tetapi mengapa, untuk siapa, dan ke mana bangsa dibawa.
Soemanang Soerjowinoto bukan hanya tokoh pers. Ia adalah contoh bagaimana pers dapat menjadi bagian dari arah kebijakan bangsa.
Di Hari Pers Nasional ini, kisah Soemanang mengingatkan kita: pers bukan penonton sejarah, tetapi salah satu penentunya.
Selamat Hari Pers Nasional.
Wonder Nusantara — Merawat cerita, menjaga arah bangsa.